When love is not enough

November 15th, 2008

Cerita pendek ini pertama kali saya baca sekitar akhir tahun 2003 tidak lama sebelum saya merasakan cinta yang hampir sama dengan salah satu tokoh cerita ini,sampai saat ini pun cerita di hidup saya belum berakhir,saya masih menunggu akankah cerita saya bisa berakhir bahagia seperti apa yang dirasakan stanley ketika bianca akhirnya memilihnya…atau cerita saya akan berakhir dengan sendirinya dan hanya  akan menjadi kenangan dan serpihan mozaik dalam hidup saya. :D 

 *When Love is NOt EnOugH*

  Handphone-ku bergetar.
  Dengan enggan kubaca nama penelponnya. Private number..
  Setelah beberapa saat aku menimang-nimang, akhirnya kuputuskan untuk
  mengangkat telpon itu.

  “Hallo.” sapaku.
  “Hallo Ca, ini Rosa.”
  “Rosa?” ucapku agak terkejut.
  “Sudah terima undangannya?” tanya Rosa agak terburu-buru. Suasana hiruk
  pikuk di sekitarnya terdengar samar-samar.
  “Undangan?” Buru-buru aku berjalan ke arah meja ruang tamu, menahan rasa pusing yang langsung muncul ketika aku bangun dari tempat tidur, langsung mencari-cari undangan yang disebut oleh Rosa. Ternyata house-mateku
  menaruhnya di bawah tumpukan koran.

  “Iya, aku post beberapa hari yang lalu. Harusnya sudah sampai tadi pagi.”

  “Oh, iya.. ada nih.. Undangan siapa sih ini?” kubuka undangan itu dan
  terkesiap melihat nama pengantin perempuannya. “Rosa! Kamu mau married?
  Kenapa nggak pernah cerita di email? Ngagetin banget..” aku masih belum
pulih dari keterkejutanku. Kulihat nama pengantin prianya, memang pria
 yang Rosa pacari dua tahun terakhir ini.

  Rosa tertawa senang mendengar keterkejutanku. “Ca, itu undangan belum
  disebar loh..
  Aku kasih kamu duluan sekalian bikin kejutan supaya kamu orang luar
  pertama yang tahu..” ucapnya senang.

  “Ya ampun Sa.. Kamu hampir bikin aku jantungan, tau nggak?” ucapku tanpa
  bisa menyembunyikan kesenangan yang juga aku rasakan saat itu.

  “Ca, aku lagi buru-buru nih.. Nanti aku kirim e-mail lagi yah..” Lalu
  Rosa
  mengakhiri percakapan singkat kami.

  Aku merebahkan diriku di atas sofa. Kupandangi lagi undangan yang masih
  kupegang. Rosa.. berapa umurnya sekarang? 23? Waktu memang cepat sekali
  berlalu.. Aku sendiri sudah 27 tahun.. Sudah bisa kutebak reaksi mama
  kalau
  tahu tentang hal ini nanti. Pernikahan Rosa memang alasan yang tepat
  untuk
  menyuruhku cepat-cepat cari pacar dan menikah. Aku tahu maksud baik
  mama..
  tapi entah mengapa hati ini masih tidak bisa untuk menerima cinta yang
  lain.
  Hati ini seolah-olah masih diikat olehnya, oleh pria yang selalu ada di
  setiap sudut benakku, yang berada nun jauh di sana.. Read the rest of this entry »

Another love story

November 12th, 2008

Cerita ini terus terang menambah keyakinan pada diri setiap orang,bahwa cinta sejati itu masih ada,cinta yang sebenar benarnya cinta…… 

 kisah ini untuk renungan kita bersama. Teman2 semoga dari hikmah kisah ini bermanfaat untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warohmah. Amiin. Wassalam, Ketika Derita Mengabadikan Cinta “Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan. ..” Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo. Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu. Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu… Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita… Read the rest of this entry »

February 23rd, 2008

heroes.jpg

Heroes one of my favourite movie

memang hero terlalu fiksi tapi its fun banget untuk dilihat,apalagi karakter pemainnya yang beda beda bikin filmnya jadi asyik di tonton,tokoh hiro yang polos tapi bisa berani kalo kepepet and some of the other heroes yang ingin jadi normal.